Anak-anak dikenal sebagai individu yang mau menang sendiri, egois, dan berpusat pada diri sendiri (self-centered). Tidak heran jika selama ini orang menyangka mereka tidak akan mampu menjalin pertemanan atas dasar hubungan memberi dan menerima, sebelum usia mereka mencapai 6-7 tahun. Ternyata sangkaan ini keliru.

“Penelitian terakhir menunjukkan, beberapa anak mampu berempati dengan orang lain ketika usia mereka baru 2,5 sampai 3 tahun”, kata Sandra V Sandy PhD, penasihat kurikulum untuk program TV Sesame Street sekaligus Direktur Ekslusif Paeceful Kids ECSEL (Early Childhood Social Emotional Learning) program pada Columbia University di New York.

Menurut Sandra, seorang bayi berusia 2 minggu yang menangis karena mendengar bayi lain menangis, atau seorang anak usia 1 tahun yang menyodorkan mainan kepada orang lain karena mengira kita sedang sedih, sebenarnya tengah memperhatikan empati dalam bentuk yang primitive. Dan, bentuk-bentk primitive empati adalah batu pembangun persahabatan.

Lilian Katz PhD, Direktur ERIC Clearing house on Elementary and Childhood Education pada University of Ikkinois di Urbana-Champaign, mengatakan, para bayi mulai mempelajari kecakapan sosial secara sederhana ketika ia diasuh dan distimulasi oleh pengasuh yang peka dan bertannggungjawab. Sementara di masa batita dan tahun-tahun prasekolah, anak mulai mengembangkan pola-pola perilaku dan sikap mengenai sosialisasi dengan mengamati bagaimana orang-orang di sekeliling mereka bertindak dan bereaksi dalam situasi social.

Hanya, anak-anak batita belum memiliki kematangan dalam beberapa kemampuan dasar yang diperlukan dalam sebuah pertemanan yang erat. Misalnya, kemampuan menanggapi anak lain dengan baik, dan kemampuan untuk mengatur giliran lebih baik dengan teman-temannya.

Untuk mengasah keterampilan anak batita berteman, bantuan orangtua sangat penting. Ann E LaForge menyarankan , para ibu bergabung dengan kelompok-kelompok kegiatan yang melibatkan ibu dan batitanya. Dengan begitu, anak-anak bisa sering bertemu dalam situasi yang akrab dan terawasi dengan baik. Tentu saja mempertemukan batita dengan anak-anak lainnya belum cukup. Orangtua juga dapat membantu memfasilitasi pertemuan anak-anak batita agar suasana lebih kondusif untuk bermain.