Wawasan Global yang Berlandaskan Imtak
Posted In:
Artikel
.
By Admin
Lembaga pendidikan yang baik dapat menteimbangkan antara mengasah kecerdasan akademis, sekaligus membentuk kepribadian siswa dengan baik. Apalagi menghadapi era globalisasi saat ini yang membawa berbagi aspek positif dan negative bagi anak.
Global Islamic School (GIS) merupakan lembaga pendidikan yang sangat memahami fenomena tersebut. Pendirian sekolah yang dilakukan pada 2002, dilandasi visi menjadikan sekolah sebagai wadah pembelajaran yang berwawasan global berlandaskan iman dan takwa (imtak).
Menurut Dra H Syaichul Basyar Marsid Direktur GIS, sekolah yang dipimpinnya merupakan sekolah nasional yang berwawasan internasional. “Artinya, kami tetap berada di bawah bimbingan Departemen Pendidikan Nasional. Akan tetapi memiliki tambahan kurikulum yang bernuansa internasional, seperti pengembangan bahasa Inggris. Serta, pengembangan segi budaya keagamaan Islam yang berpegang teguh pada Alquran dan Sunah Rasul”, paparnya.
Sejak awal pendirian, GIS telah membuka beberapa tingkatan sekolah, mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA secara bersamaan. Syaichul menegaskan, hal ini sesuai dengan pandangan dari pendiri GIS B Winarso.
Resti Margiasih Panitie, Kepala Sekolah TK GIS, menambahkan bahwa untuk mempersiapkan siswa agar memiliki wawasan global berlandaskan imtak. Sebagai kerangka, maka sejak tingkat playgroup dan TK, anak-anak telah dibekali pengetahuan agama sesuai kemapuan. “Sejak tingkat playgroup hingga kindergarten 2, siswa diajarkan doa-doa harian. Kegiatannya biasa dimulai pada pagi hari. Mereka mengadakan doa bersama membaca hafalan doa sekaligus aplikasi dari doa tersebut. Misalnya, doa mau belajar biasanya dimulai Al Fathihah”, jelas Resti. Sesuai dengan tingkat usia dan kemampuan anak, maka hafalan doa tersebut ditambah. Selain itu, anak-anak juga dijelaskan mengenai manfaat dari membaca doa tersebut. Dengan demikian, ketika anak-anak melafalkan suatu doa, maka mereka juga memahami manfaatnya.
Global di sini juga kan berarti mengajak anak-anak memahami keanekaragaman yang ada, tetapi tetap berprinsip pada Islam. Jadi, nilai-nilai Islam itu terintegrasi dalam setiap kegiatan mereka. Khusus untuk pendidikan usia dini pada tingkat playgroup dan TK, Resti memaparkan bahwa pendidikan GIS mengacu pada teori perkembangan anak. Para pendidik GIS memahami bahwa anak-anak tidak bisa belajar dengan paksaan sehingga semua kegiatan belajar dilandasi dengan prinsip bermain.
“Ketika bermain, kami harapkan anak-anak bisa menikmati. Setelah itu, kami masukkan materi-materi pembelajaran yang sesuai dengan pemikiran mereka. Materi yang ada diklasifikasi dengan tematik, misalnya dimulai dengan tema ‘Aku Dan Sekolahku’. Itu berarti mereka mengenal dirinya, guru, dan sekolah. Jadi, semuanya berjaring saling berkesinambungan dengan pengetahuan mereka”, tuturnya.
Global Islamic School (GIS) merupakan lembaga pendidikan yang sangat memahami fenomena tersebut. Pendirian sekolah yang dilakukan pada 2002, dilandasi visi menjadikan sekolah sebagai wadah pembelajaran yang berwawasan global berlandaskan iman dan takwa (imtak).
Menurut Dra H Syaichul Basyar Marsid Direktur GIS, sekolah yang dipimpinnya merupakan sekolah nasional yang berwawasan internasional. “Artinya, kami tetap berada di bawah bimbingan Departemen Pendidikan Nasional. Akan tetapi memiliki tambahan kurikulum yang bernuansa internasional, seperti pengembangan bahasa Inggris. Serta, pengembangan segi budaya keagamaan Islam yang berpegang teguh pada Alquran dan Sunah Rasul”, paparnya.
Sejak awal pendirian, GIS telah membuka beberapa tingkatan sekolah, mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA secara bersamaan. Syaichul menegaskan, hal ini sesuai dengan pandangan dari pendiri GIS B Winarso.
Resti Margiasih Panitie, Kepala Sekolah TK GIS, menambahkan bahwa untuk mempersiapkan siswa agar memiliki wawasan global berlandaskan imtak. Sebagai kerangka, maka sejak tingkat playgroup dan TK, anak-anak telah dibekali pengetahuan agama sesuai kemapuan. “Sejak tingkat playgroup hingga kindergarten 2, siswa diajarkan doa-doa harian. Kegiatannya biasa dimulai pada pagi hari. Mereka mengadakan doa bersama membaca hafalan doa sekaligus aplikasi dari doa tersebut. Misalnya, doa mau belajar biasanya dimulai Al Fathihah”, jelas Resti. Sesuai dengan tingkat usia dan kemampuan anak, maka hafalan doa tersebut ditambah. Selain itu, anak-anak juga dijelaskan mengenai manfaat dari membaca doa tersebut. Dengan demikian, ketika anak-anak melafalkan suatu doa, maka mereka juga memahami manfaatnya.
Global di sini juga kan berarti mengajak anak-anak memahami keanekaragaman yang ada, tetapi tetap berprinsip pada Islam. Jadi, nilai-nilai Islam itu terintegrasi dalam setiap kegiatan mereka. Khusus untuk pendidikan usia dini pada tingkat playgroup dan TK, Resti memaparkan bahwa pendidikan GIS mengacu pada teori perkembangan anak. Para pendidik GIS memahami bahwa anak-anak tidak bisa belajar dengan paksaan sehingga semua kegiatan belajar dilandasi dengan prinsip bermain.
“Ketika bermain, kami harapkan anak-anak bisa menikmati. Setelah itu, kami masukkan materi-materi pembelajaran yang sesuai dengan pemikiran mereka. Materi yang ada diklasifikasi dengan tematik, misalnya dimulai dengan tema ‘Aku Dan Sekolahku’. Itu berarti mereka mengenal dirinya, guru, dan sekolah. Jadi, semuanya berjaring saling berkesinambungan dengan pengetahuan mereka”, tuturnya.
0 Responses to Wawasan Global yang Berlandaskan Imtak
Something to say?