Fobia sekolah pada anak merupakan bentuk kecemasan yang tinggi terhadap sekolah. Biasanya disertai berbagai keluhan yang tidak pernah muncul ataupun hilang ketika “masa keberangkatan” sudah lewat, hari minggu atau hari libur. Fobia sekolah dapat dialami anak sewaktu-waktu hingga usia 15 tahun.

Fobia kerap terjadi saat si anak mulai bersekolah di sekolah baru atau menghadapi lingkungan baru. Selain itu, ketika ia menghadapi suatu pengalaman yang tidak menyenangkan di sekolahnya.

Menurut Praktisi Pendidikan Dra Prihanti Handayani, anak yang mengalami fobia sekolah bisa kelihatan ketika dia sedang bersekolah. Misalnya, dengan gejala seperti perut mulas. Lalu, ia akan minta ijin pulang dengan alasan sakit. Keesokan harinya pun dia tidak mau bersekolah. Izin satu-dua hari, lama-kelamaan mogok sekolah.

“Fenomena fobia sekolah biasanya terjadi pada masa awal tahuun ajaran baru. Hal ini bisa disebabkan masalah kemampuan anak dalam menyesuaikan diri. Namun, bisa juga lantaran masalah psikologi yang dibawa anak dari rumah”, kata Kepala Level 4-6 SDI Al Izhar, Pondok Labu. Dia mengaku, di sekolahnya ada saja anak yang mengalami fobia sekolah. Ini terjadi karena adanya perubahan dan perbedaan antara peraturan di rumah dengan peraturan di sekolah. “Anak fobia sekolah biasanya tidak terbiasa dengan sistem. Untuk menanggulangi fobia sekolah perlu kerja sama dengan orangtua”, paparnya.

Bisa saja si anak punya masalah di rumah. Kemudian, tiba-tiba di tengah jalan dia mogok sekolah karena dia mengalami kehilangan motivasi untuk sekolah. Si anak tidak tahu mencetuskan kemarahannya dalan bentuk apa? Jadi, dilampiaskan dengan cara mogok sekolah.

Kalau di sekolah terjadi seperti itu, maka guru kelas akan mendekati si anak secara individu. Menanyakan apa masalahnya dan apa yang bisa bibantu. Kalu masalahnya itu berkaitan dengan adaptasi, biasanya lebih mudah ditangani. Dalam hitungan minggu atau satu bulan sudah bisa diselesaikan dan anak sudah kembali aktif normal bersekolah. Repotnya, kalau masalah itu dibawa anak dari rumah. Menanganinya jauh lebih sulit, biasanya anak berkelit dengan jawaban yang berganti-ganti. Dalam situasi semacam ini diperlukan penanganan ahli psikologi. Terlebih dahulu ditangani masalah yang dihadapi si anak

“Kebanyakan kasus di sekolah kami karena anak yang mempunyai masalah di rumah. Hanya satu-dua anak yang berkaitan dengan masalah penyesuaian diri di kelas. Ini biasanya lebih cepat dan mudah untuk ditangani”, ujar Yani.

Kondisi berbeda bila kasus, seperti orangtuanya bercerai. Dengan demikian, soal ketidaknyamanan di rumah dibawa si anak ke sekolah, yang membuat dia menjadi malas sekolah