Biasanya di sekolah lain ada hari khusus yang dinamakan English Day, maka di Global Islamic School justru ada Indonesia’s Day. Bahasa Indonesia memang hanya diberi jatah satu hari di sekolah ini, yaitu hari Jum’at saja. Sementara, sisanya selama empat hari anak-anak diwajibkan berbahasa Inggris.

“Tujuan kami adalah agar anak-anak bisa menggunakan bahasa Inggris dalam konteks sekolah”, kata Wahyu Razak, Wakil Direktur Global Islamic School (GIS) yang sekaligus bertugas membuat desain kurikulum bahasa Inggris (GIS).

Di sekolah ini, bahasa Inggris diajarkan sejak tingkat Taman Kanak-kanak hingga SMU. Perbedaannya terletak pada metode dan pendekatan umum yang digunakan. Untuk tingkat SD sampai SMU, bahasa Inggris sudah digunakan baik sebagai pengantar pelajaran maupun dalam text book, seperti matematika dan buku-buku science. Bahkan anak-anak yang masih duduk di bangku kelas I SD sudah pandai melakukan dialog bahasa Inggris dengan orangtuanya.

Sementara itu, pengajaran bahasa Inggris pada level TK disesuaikan dengan tingkat usia anak. Biasanya dimulai dari hal-hal kecil yang bersifat alamiah. Contohnya, setiap pagi anak-anak disapa dengan good morning oleh sang guru. Awalnya anak-anak mungkin acuh dan tidak mengerti, tapi lama kelamaan mereka jadi mengetahui bahwa kata-kata tersebut adalah sapaan khusus untuk pagi hari. Dengan begitu, jika pada suatu saat disapa lagi mereka akan menjawab dengan good morning juga.

“Itu namanya pendekatan alamiah. Dari situ anak mengalami pemakaian bahasa yang tepat, tujuan kami supaya anak-anak bisa menguasai bahasa Inggris secara alamiah, tanpa perlu berpikir atau menerjemahkan dulu. Anak-anak itu belajar dari input yang dia terima. Oleh karena itu, kamu mengajak mereka langsung bicara saja sehingga mereka langsung bisa menirukan”, tutur pria yamg mendapat julukan Mr Good Morning ini.

Lebih lanjut, Wahyu menegaskan bahwa pengajaran bahasa Inggris untuk anak-anak sebetulnya lebih mudah karena biasanya mereka tidak takut salah. Ini berbeda dengan orang dewasa yang enggan berlatih berbicara bahasa Inggris karena takut salah atau takut ditertawakan. Hal ini membedakan antara orang dewasa denga anak-anak karena tingkat kekhawatiran akan berbuat kesalahan. Pada anak-anak tingkat kekhawatiran ini berada pada tingkat zero level.

Selain pendekatan alamiah, pengajaran bahasa Inggris juga dilakukan melalui media software berbentuk maneka CD interaktif yang dibeli dari dalam maupun luar negeri. Sementara. Untuk pengantar materinya lebih banyak diserahkan kepada kreativitas masing-masing guru pengajar.