Bermain identik dengan dunia anak. Namun di usia batita, anak-anak sudah memiliki pola bermain yang berbeda-beda. Tak jarang, mereka juga tampak asyik bermain sendirian atau soliter karena pola bermain ini memang masih mendominasi pada usia tersebut.

Psikolog Reni Hasan mengatakan bahwa pada saat si batita belum mau bermain dengan anak-anak sebayabnya, sebaiknya orangtua tidak memaksanya. Ia membenarkan bahwa anak usia batita masih memiliki sikap egosentris yang tinggi. Anak belum mau berbagi dan masih ingin diperhatikan sehingga bermain bersama dapat membuatnya merasa tidak nyaman. Ketika anak berada pada usia batita, ia sering kali merasa nyaman dengan dunianya sendiri. Namun, tidak tetutup kemungkinan anak usia batita ada yang sudah bisa bersosialisasi. Anak bisa bermain bersama dengan teman lainnya. Malah bisa jadi dia merasa kurang gembira bila tidak mempunyai teman bermain atau harus bermain sendirian.

Jadi, bermain sendiri atau bersama-sama tergantung pada masing-masing anak dan juga orangtua. Ada anak yang memang merasa lebih senang bermain sendiri dibandingkan bermain dengan teman sebayanya. Besar kemungkinan karena orangtua tidak mendorong si anak bersoaialisasi sejak dini. Hal ini tergantung dari nilai-nilai yang berlaku pada keluarga, terutama pola pengasuhan yang diterapkan kepada anak. Anak juga kan belajar dari contoh yang diberikan oleh orangtua.

Sebaliknya, ada juga anak yang malah lebih senang bermain bersama. Biasanya, ini terjadi karena orangtua cenderung mendorong anak bermain bersama anak lain sejak dini. Hal ini dilakukan oleh orangtua yang tinggal dalam keluarga besar. Dengan demikian, sulit dibilang bermain sendiri itu bagus atau tidak. Tergantung juga harapan dari orangtua. Misalnya, jika orangtua yang pendiam, maka ia tidak akan menuntut sang anak untuk bawel atau bermain dengan oranglain.

Salah satu hal yang perlu diingat orangtua bahwa bermain soliter adalah bagian perkembangan tahapan normal. Jadi, tidak perlu khawatir dengan kebiasaan anak bermain sendirian. Biarkan dan jangan paksa anak untuk bermain dengan anak-anak lain bila memang tidak dia inginkan.

Melalui bermain soliter ini, anak bisa belajar banyak hal. Selain belajar berbagai keterampilan motorik dan beragam keterampilan lainnya, ia juga bisa mengembangkan imajinasinya. Dengan demikian, kreativitas si kecil pun semakin berkembang.

Penelitian ahli perkembangan anak, Mildred Parten, membagi dua pola bermain anak, yaitu bermain social dan nonsosial. Disebut bermain social jika dua anak atau lebih bermain bersama dan saling terlibat. Pada anak batita, umumnya dijumpai pola bermain nonsosial atau tidak bermain bersama anak-anak lain.