Didahulukan Kemampuan dalam Bermain

Kemampuan bersosialisasi adalah salah satu kemampuan kompleks yang harus dipelajari anak. Bahkan bagi batita (bayi dibawah tiga tahun), teman memiliki pengaruh penting dalam perkembangannya. Pertemanan dapat membantu anak membangun rasa percaya diri dan empati.

Para ahli menyebutkan bahwa kemampuan anak untuk berteman dimulai sejak anak lahir. Orangtua dapat membantu anak dalam mengembangkan kemampuan ini, mengingat perannya sebagai teman pertama bagi anak. Lalu apa yang menjadi modal yang diperlukan anak batita untuk menjalin hubungan dengan teman-teman pertama mereka?

Dr Alice Charach, psikiater anak pada Hospital of Sick Children, Toronto dan penulis Your Child at Play series menyebutkan bahwa pada usia 1-2 tahun, anak-anak mulai memperluas dunia mereka, yaitu ketika mulai timbul ketertarikan pada anak lain. Anak ingin bersama anak-anak lain, bermain bersama, dan menonton mereka. Inilah modal awal anak untuk menjalin pertemanan. Naluri anak untuk berteman sudah ada sejak ia lahir. Mengingat inti pertemanan ialah membangun hubungan. Tentu saja, hubungan anak pertama ialah dengan orangtuanya. Setelah anak berhasil membangun hubungan yang kuat dengan orangtua, mereka mulai memperluas hubungan dengan orang lain.

Untuk mulai menjalin pertemanan, biasanya didahului dengan kemampuan anak bermain. Tipe bermain pertama yang umum dimiliki anak ialah bermain sendiri (solitary play).

Bermain sendiri ini bisa berarti benar-benar bermain sendirian atau memperhatikan orang lain bermain. Orangtua sering kali merasa khawatir jika anak melakukan hal ini, mereka berfikir anak mereka tidak benar-benar bermain. Padahal hal ini normal untuk anak, yaitu bermain sendiri atau sekedar memperhatikan orang lain

Marlyn Segal PhD, pakar perkembangan anak usia dini, pendiri sekaligus Direktur Family Center di Nova Southeastern University in Fort Lauderdale, Florida, Amerika Serikat, mengatakan sejak usia 8 bulan anak dapat terikat dengan anak lain. Contohnya anak-anak batita di kelompokkan bermain atau di kelas-kelas kegiatan orangtua dan anak. Di sana kita akan menemukan dua anak yang secara alami memiliki kecondongan terhadap satu sama lain.

Ann E LaForge, penulis buku What Really Happens in School, menyebutkan bahwa usia 1-2 tahun anak-anak memang ingin tahu (curious) terhadap anak-anak lain. Selain itu, mereka juga mulai tertarik bergiliran, berbagi, dan melakukan tindakan kooperatif yang lainnya.

Hal ini dapat dilihat dari sikap keseharian anak. Proses anak berteman dapat kita lihat melalui tahap bermain yang tengah mereka jalani. Pada usia 2-3 tahun, kegiatan bermain anak pindah dari bermain pararel, yaitu bermain berdampingan dengan anak lain. Namun, kegiatannya berbeda dengan bermain kooperatif, yaitu mengamati anak lain lalu terlibat.