Periode keemasan perkembangan bahasa adalah usia balita, yaitu sejak usia pertama sampai usia enam tahun. Pembelajaran bahasa pada balita diketahui berlangsung efektif melalui kegiatan bermain dan mendengarkan secara intens. Artinya, tanpa perlu stimulasi berlebih, balita dapat belajar bahasa ibu secara alami dengan baik.

Memang dibandingkan dengan orang dewasa kemampuan anak menguasai bahasa asing jauh lebih baik dan lebih cepat. Ini karena daya pikir anak lebih lentur sehingga ia lebih mudah menyerap kosakata dan tata bahasa asing serta dapat mempraktikkannya secara natural. Sebaliknya, jika terlambat mengenal bahasa asing pada anak, misalnya saat ia sudah menginjak usia remaja, maka kemampuannya menyerap pengetahuan bahasa asing sudah berkurang dan hasinya pun tidak maksimal.

Profesor English Linguistics dari University of Vaasa di Finlandia Deborah DK Ruuskanen mengunngkapkan, anak memungkinkan diajarkan dua atau tiga bahasa sekaligus. Ia mencontohkan, anak-anak di Eropa banyak yang belajar empat bahasa sekaligus tanpa kesulitan.

Ia mengatakan bahwa persyaratan utama adalah orangtua berbicara sesuai debgab bahasa ibu kepada anak. Kemudian, anak memiliki alas an mempelajari beragam bahasa dan ada dorongan untuk anak mempelajari bahasa-bahasa tersebut seperti lingkungan di luar rumah.

Jika bahasa yang digunakan di lingkungan rumah merupakan bahasa ketiga, maka anak akan dengan mudah mempelajari bahasa tersebut ketika ia mulai bermain dengan anak-anak lain di lingkungan tersebut. Ruuskanen dikutip dalam www.linguistlist.org.

Halu yang melatari kemampuan anak yang dapat menyerap bahasa, Ruuskanen melanjutkan, karena semacam ada “jendela” belajar bahasa yang terbuka kira-kira saat anak berusia 10 bulan. Di usia ini, menurut dia, terlihat jelas bayi-bayi mulai menirukan bunyi-bunyian yang mereka dengar.

Ketika ada reaksi dari pengasuh mereka, orangtua, atau siapa saja, bayi pun mulai mengasosiasikan arti dengan bunyi. Selama dua tahun ke depan, bayi akan belajar bahasa dengan kecepatan menakjubkan.

Dengan bermodalkan potensi yang sangat bagus seperti ini, yang tidak dimiliki lagi oleh orang dewasa, maka belajar dua bahasa tampaknya bukan perkara susah untuk anak balita.

Prof Ruuskanen yang kebetulan ibu dari tiga orang anak bilingual, ini menyebutkan bahwa optimal untuk belajar bahasa kedua sebenarnya sama dengan waktu belajar bahasa pertama, yaitu di rumah. Sejak anak lahir sampai usia tiga tahun dengan catatan kedua orangtuanya berbicara dalam dua bahasa tersebut sebagai bahasa ibu mereka (mother tongue).