Dunia anak

Telaga Bidadari

Posted In: . By Admin


Dahulu kala, ada seorang pemuda yang tampan dan gagah. Ia bernama Awang Sukma. Awang Sukma mengembara sampai ke tengah hutan belantara. Ia tertegun melihat aneka macam kehidupan di dalam hutan. Ia membangun sebuah rumah pohon di sebuah dahan pohon yang sangat besar. Kehidupan di hutan rukun dan damai. Setelah lama tinggal di hutan, Awang Sukma diangkat menjadi penguasa daerah itu dan bergelar Datu. Sebulan sekali, Awang Sukma berkeliling daerah kekuasaannya dan sampailah ia di sebuah telaga yang jernih dan bening. Telaga tersebut terletak di bawah pohon yg rindang dengan buah-buahan yang banyak. Berbagai jenis burung dan serangga hidup dengan riangnya. "Hmm, alangkah indahnya telaga ini. Ternyata hutan ini menyimpan keindahan yang luar biasa," gumam Datu Awang Sukma.

Keesokan harinya, ketika Datu Awang Sukma sedang meniup serulingnya, ia mendengar suara riuh rendah di telaga. Di sela-sela tumpukan batu yang bercelah, Datu Awang Sukma mengintip ke arah telaga. Betapa terkejutnya Awang Sukma ketika melihat ada 7 orang gadis cantik sedang bermain air. "Mungkinkah mereka itu para bidadari?" pikir Awang Sukma. Tujuh gadis cantik itu tidak sadar jika mereka sedang diperhatikan dan tidak menghiraukan selendang mereka yang digunakan untuk terbang, bertebaran di sekitar telaga. Salah satu selendang tersebut terletak di dekat Awang Sukma. "Wah, ini kesempatan yang baik untuk mendapatkan selendang di pohon itu," gumam Datu Awang Sukma.

Mendengar suara dedaunan, para putri terkejut dan segera mengambil selendang masing-masing. Ketika ketujuh putri tersebut ingin terbang, ternyata ada salah seorang putri yang tidak menemukan pakaiannya. Ia telah ditinggal oleh keenam kakaknya. Saat itu, Datu Awang Sukma segera keluar dari persembunyiannya. "Jangan takut tuan putri, hamba akan menolong asalkan tuan putri sudi tinggal bersama hamba," bujuk Datu Awang Sukma. Putri Bungsu masih ragu menerima uluran tangan Datu Awang Sukma. Namun karena tidak ada orang lain maka tidak ada jalan lain untuk Putri Bungsu kecuali menerima pertolongan Awang Sukma.

Datu Awang Sukma sangat mengagumi kecantikan Putri Bungsu. Demikian juga dengan Putri Bungsu. Ia merasa bahagia berada di dekat seorang yang tampan dan gagah perkasa. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi suami istri. Setahun kemudian lahirlah seorang bayi perempuan yang cantik dan diberi nama Kumalasari. Kehidupan keluarga Datu Awang Sukma sangat bahagia.

Namun, pada suatu hari seekor ayam hitam naik ke atas lumbung dan mengais padi di atas permukaan lumbung. Putri Bungsu berusaha mengusir ayam tersebut. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah bumbung bambu yang tergeletak di bekas kaisan ayam. "Apa kira-kira isinya ya?" pikir Putri Bungsu. Ketika bumbung dibuka, Putri Bungsu terkejut dan berteriak gembira. "Ini selendangku!, seru Putri Bungsu. Selendang itu pun didekapnya erat-erat. Perasaan kesal dan jengkel tertuju pada suaminya. Tetapi ia pun sangat sayang pada suaminya.

Akhirnya Putri Bungsu membulatkan tekadnya untuk kembali ke kahyangan. "Kini saatnya aku harus kembali!," katanya dalam hati. Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya sambil menggendong bayinya. Datu Awang Sukma terpana melihat kejadian itu. Ia langsung mendekat dan minta maaf atas tindakan yang tidak terpuji yaitu menyembunyikan selendang Putri Bungsu. Datu Awang Sukma menyadari bahwa perpisahan tidak bisa dielakkan. "Kanda, dinda mohon peliharalah Kumalasari dengan baik," kata Putri Bungsu kepada Datu Awang Sukma." Pandangan Datu Awang Sukma menerawang kosong ke angkasa. "Jika anak kita merindukan dinda, ambillah tujuh biji kemiri, dan masukkan ke dalam bakul yang digoncang-goncangkan dan iringilah dengan lantunan seruling. Pasti dinda akan segera datang menemuinya," ujar Putri Bungsu.

Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya dan seketika terbang ke kahyangan. Datu Awang Sukma menap sedih dan bersumpah untuk melarang anak keturunannya memelihara ayam hitam yang dia anggap membawa malapetaka.

Pesan moral : Jika kita menginginkan sesuatu sebaiknya dengan cara yang baik dan halal. Kita tidak boleh mencuri atau mengambil barang/harta milik orang lain karena suatu saat kita akan mendapatkan hukuman.

 

Cindelaras

Posted In: . By Admin

Raden Putra adalah raja Kerajaan Jenggala. Ia didampingi seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang cantik jelita. Tetapi, selir Raja Raden Putra memiliki sifat iri dan dengki terhadap sang permaisuri. Ia merencanakan suatu yang buruk kepada permaisuri. "Seharusnya, akulah yang menjadi permaisuri. Aku harus mencari akal untuk menyingkirkan permaisuri," pikirnya.

Selir baginda, berkomplot dengan seorang tabib istana. Ia berpura-pura sakit parah. Tabib istana segera dipanggil. Sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri. "Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri," kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patihnya untuk membuang permaisuri ke hutan.

Sang patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuhnya. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. "Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh," kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja menganggung puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri.

Setelah beberapa bulan berada di hutan, lahirlah anak sang permaisuri. Bayi itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur. "Hmm, rajawali itu baik sekali. Ia sengaja memberikan telur itu kepadaku." Setelah 3 minggu, telur itu menetas. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang bagus dan kuat. Tapi ada satu keanehan. Bunyi kokok ayam jantan itu sungguh menakjubkan! "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra..."

Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya dan segera memperlihatkan pada ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam. "Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku," tantangnya. "Baiklah," jawab Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan. Ayamnya benar-benar tangguh.

Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat. Raden Putra pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras. "Hamba menghadap paduka," kata Cindelaras dengan santun. "Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata," pikir baginda. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.

Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. "Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?" Tanya Baginda Raden Putra. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...," ayam jantan itu berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. "Benarkah itu?" Tanya baginda keheranan. "Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda."

Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. "Aku telah melakukan kesalahan," kata Baginda Raden Putra. "Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku," lanjut Baginda dengan murka. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.

Pesan moral :
Kebaikan akan berbuah kebaikan sedang kejahatan akan mendatangkan penderitaan.

 

Loro Jonggrang

Posted In: . By Admin

Alkisah, pada dahulu kala terdapat sebuah kerajaan besar yang bernama Prambanan. Rakyatnya hidup tenteran dan damai. Tetapi, apa yang terjadi kemudian? Kerajaan Prambanan diserang dan dijajah oleh negeri Pengging. Ketentraman Kerajaan Prambanan menjadi terusik. Para tentara tidak mampu menghadapi serangan pasukan Pengging. Akhirnya, kerajaan Prambanan dikuasai oleh Pengging, dan dipimpin oleh Bandung Bondowoso.

Bandung Bondowoso seorang yang suka memerintah dengan kejam. "Siapapun yang tidak menuruti perintahku, akan dijatuhi hukuman berat!", ujar Bandung Bondowoso pada rakyatnya. Bandung Bondowoso adalah seorang yang sakti dan mempunyai pasukan jin. Tidak berapa lama berkuasa, Bandung Bondowoso suka mengamati gerak-gerik Loro Jonggrang, putri Raja Prambanan yang cantik jelita. "Cantik nian putri itu. Aku ingin dia menjadi permaisuriku," pikir Bandung Bondowoso.

Esok harinya, Bondowoso mendekati Loro Jonggrang. "Kamu cantik sekali, maukah kau menjadi permaisuriku ?", Tanya Bandung Bondowoso kepada Loro Jonggrang. Loro Jonggrang tersentak, mendengar pertanyaan Bondowoso. "Laki-laki ini lancang sekali, belum kenal denganku langsung menginginkanku menjadi permaisurinya", ujar Loro Jongrang dalam hati. "Apa yang harus aku lakukan ?". Loro Jonggrang menjadi kebingungan. Pikirannya berputar-putar. Jika ia menolak, maka Bandung Bondowoso akan marah besar dan membahayakan keluarganya serta rakyat Prambanan. Untuk mengiyakannya pun tidak mungkin, karena Loro Jonggrang memang tidak suka dengan Bandung Bondowoso.

"Bagaimana, Loro Jonggrang ?" desak Bondowoso. Akhirnya Loro Jonggrang mendapatkan ide. "Saya bersedia menjadi istri Tuan, tetapi ada syaratnya," Katanya. "Apa syaratnya? Ingin harta yang berlimpah? Atau Istana yang megah?". "Bukan itu, tuanku, kata Loro Jonggrang. Saya minta dibuatkan candi, jumlahnya harus seribu buah. "Seribu buah?" teriak Bondowoso. "Ya, dan candi itu harus selesai dalam waktu semalam." Bandung Bondowoso menatap Loro Jonggrang, bibirnya bergetar menahan amarah. Sejak saat itu Bandung Bondowoso berpikir bagaimana caranya membuat 1000 candi. Akhirnya ia bertanya kepada penasehatnya. "Saya percaya tuanku bias membuat candi tersebut dengan bantuan Jin!", kata penasehat. "Ya, benar juga usulmu, siapkan peralatan yang kubutuhkan!"

Setelah perlengkapan di siapkan. Bandung Bondowoso berdiri di depan altar batu. Kedua lengannya dibentangkan lebar-lebar. "Pasukan jin, Bantulah aku!" teriaknya dengan suara menggelegar. Tak lama kemudian, langit menjadi gelap. Angin menderu-deru. Sesaat kemudian, pasukan jin sudah mengerumuni Bandung Bondowoso. "Apa yang harus kami lakukan Tuan ?", tanya pemimpin jin. "Bantu aku membangun seribu candi," pinta Bandung Bondowoso. Para jin segera bergerak ke sana kemari, melaksanakan tugas masing-masing. Dalam waktu singkat bangunan candi sudah tersusun hampir mencapai seribu buah.

Sementara itu, diam-diam Loro Jonggrang mengamati dari kejauhan. Ia cemas, mengetahui Bondowoso dibantu oleh pasukan jin. "Wah, bagaimana ini?", ujar Loro Jonggrang dalam hati. Ia mencari akal. Para dayang kerajaan disuruhnya berkumpul dan ditugaskan mengumpulkan jerami. "Cepat bakar semua jerami itu!" perintah Loro Jonggrang. Sebagian dayang lainnya disuruhnya menumbuk lesung. Dung... dung...dung! Semburat warna merah memancar ke langit dengan diiringi suara hiruk pikuk, sehingga mirip seperti fajar yang menyingsing.

Pasukan jin mengira fajar sudah menyingsing. "Wah, matahari akan terbit!" seru jin. "Kita harus segera pergi sebelum tubuh kita dihanguskan matahari," sambung jin yang lain. Para jin tersebut berhamburan pergi meninggalkan tempat itu. Bandung Bondowoso sempat heran melihat kepanikan pasukan jin.

Paginya, Bandung Bondowoso mengajak Loro Jonggrang ke tempat candi. "Candi yang kau minta sudah berdiri!". Loro Jonggrang segera menghitung jumlah candi itu. Ternyata jumlahnya hanya 999 buah!. "Jumlahnya kurang satu!" seru Loro Jonggrang. "Berarti tuan telah gagal memenuhi syarat yang saya ajukan". Bandung Bondowoso terkejut mengetahui kekurangan itu. Ia menjadi sangat murka. "Tidak mungkin...", kata Bondowoso sambil menatap tajam pada Loro Jonggrang. "Kalau begitu kau saja yang melengkapinya!" katanya sambil mengarahkan jarinya pada Loro Jonggrang. Ajaib! Loro Jonggrang langsung berubah menjadi patung batu. Sampai saat ini candi-candi tersebut masih ada dan terletak di wilayah Prambanan, Jawa Tengah dan disebut Candi Loro Jonggrang.

 

Malin Kundang

Posted In: . By Admin

Pada suatu waktu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas.
Maka tinggallah si Malin dan ibunya di gubug mereka. Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan bahkan sudah 1 tahun lebih lamanya, ayah Malin tidak juga kembali ke kampung halamannya. Sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah. Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.
Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Malin tertarik dengan ajakan seorang nakhoda kapal dagang yang dulunya miskin sekarang sudah menjadi seorang yang kaya raya.
Malin kundang mengutarakan maksudnya kepada ibunya. Ibunya semula kurang setuju dengan maksud Malin Kundang, tetapi karena Malin terus mendesak, Ibu Malin Kundang akhirnya menyetujuinya walau dengan berat hati. Setelah mempersiapkan bekal dan perlengkapan secukupnya, Malin segera menuju ke dermaga dengan diantar oleh ibunya. "Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung halamannu ini, nak", ujar Ibu Malin Kundang sambil berlinang air mata.
Kapal yang dinaiki Malin semakin lama semakin jauh dengan diiringi lambaian tangan Ibu Malin Kundang. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.
Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.
Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin Kundang setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.
Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tapi apa yang terjadi kemudian? Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh."Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku", kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping. "Wanita itu ibumu?", Tanya istri Malin Kundang. "Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku", sahut Malin kepada istrinya.
Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu". Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.
Pesan Moral : Sebagai seorang anak, jangan pernah melupakan semua jasa orangtua terutama kepada seorang Ibu yang telah mengandung dan membesarkan anaknya, apalagi jika sampai menjadi seorang anak yang durhaka. Durhaka kepada orangtua merupakan satu dosa besar yang nantinya akan ditanggung sendiri oleh anak.

 

Lutung Kasarung

Posted In: . By Admin

Prabu Tapa Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya sebagai pengganti. "Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun tahta," kata Prabu Tapa.
Purbasari memiliki kakak yang bernama Purbararang. Ia tidak setuju adiknya diangkat menggantikan Ayah mereka. "Aku putri Sulung, seharusnya ayahanda memilih aku sebagai penggantinya," gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya. Kegeramannya yang sudah memuncak membuatnya mempunyai niat mencelakakan adiknya. Ia menemui seorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari. Nenek sihir itu memanterai Purbasari sehingga saat itu juga tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam. Purbararang jadi punya alasan untuk mengusir adiknya tersebut. "Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang Ratu !" ujar Purbararang.
Kemudian ia menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan Purbasari ke hutan. Sesampai di hutan patih tersebut masih berbaik hati dengan membuatkan sebuah pondok untuk Purbasari. Ia pun menasehati Purbasari, "Tabahlah Tuan Putri. Cobaan ini pasti akan berakhir, Yang Maha Kuasa pasti akan selalu bersama Putri". "Terima kasih paman", ujar Purbasari.
Selama di hutan ia mempunyai banyak teman yaitu hewan-hewan yang selalu baik kepadanya. Diantara hewan tersebut ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Tetapi kera tersebut yang paling perhatian kepada Purbasari. Lutung kasarung selalu menggembirakan Purbasari dengan mengambilkan bunga –bunga yang indah serta buah-buahan bersama teman-temannya.
Pada saat malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia berjalan ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Ini membuktikan bahwa Lutung Kasarung bukan makhluk biasa. Tidak lama kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya mengandung obat yang sangat harum.
Keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut. "Apa manfaatnya bagiku ?", pikir Purbasari. Tapi ia mau menurutinya. Tak lama setelah ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya. Kulitnya menjadi bersih seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia bercermin ditelaga tersebut.
Di istana, Purbararang memutuskan untuk melihat adiknya di hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan para pengawal. Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang tidak mau kehilangan muka, ia mengajak Purbasari adu panjang rambut. "Siapa yang paling panjang rambutnya dialah yang menang !", kata Purbararang. Awalnya Purbasari tidak mau, tetapi karena terus didesak ia meladeni kakaknya. Ternyata rambut Purbasari lebih panjang.
"Baiklah aku kalah, tapi sekarang ayo kita adu tampan tunangan kita, Ini tunanganku", kata Purbararang sambil mendekat kepada Indrajaya. Purbasari mulai gelisah dan kebingungan. Akhirnya ia melirik serta menarik tangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak-bahak, "Jadi monyet itu tunanganmu ?".
Pada saat itu juga Lutung Kasarung segera bersemedi. Tiba-tiba terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah menjadi seorang Pemuda gagah berwajah sangat tampan, lebih dari Indrajaya. Semua terkejut melihat kejadian itu seraya bersorak gembira. Purbararang akhirnya mengakui kekalahannya dan kesalahannya selama ini. Ia memohon maaf kepada adiknya dan memohon untuk tidak dihukum. Purbasari yang baik hati memaafkan mereka. Setelah kejadian itu akhirnya mereka semua kembali ke Istana.
Purbasari menjadi seorang ratu, didampingi oleh seorang pemuda idamannya. Pemuda yang ternyata selama ini selalu mendampinginya dihutan dalam wujud seekor lutung.

 

Keong Emas

Posted In: . By Admin

Raja Kertamarta adalah raja dari Kerajaan Daha. Raja mempunyai 2 orang putri, namanya Dewi Galuh dan Candra Kirana yang cantik dan baik. Candra kirana sudah ditunangkan oleh putra mahkota Kerajaan Kahuripan yaitu Raden Inu Kertapati yang baik dan bijaksana.
Tapi saudara kandung Candra Kirana yaitu Galuh Ajeng sangat iri pada Candra kirana, karena Galuh Ajeng menaruh hati pada Raden Inu kemudian Galuh Ajeng menemui nenek sihir untuk mengutuk candra kirana. Dia juga memfitnahnya sehingga candra kirana diusir dari Istana ketika candra kirana berjalan menyusuri pantai, nenek sihirpun muncul dan menyihirnya menjadi keong emas dan membuangnya kelaut. Tapi sihirnya akan hilang bila keong emas berjumpa dengan tunangannya.
Suatu hari seorang nenek sedang mencari ikan dengan jala, dan keong emas terangkut. Keong Emas dibawanya pulang dan ditaruh di tempayan. Besoknya nenek itu mencari ikan lagi dilaut tetapi tak seekorpun didapat. Tapi ketika ia sampai digubuknya ia kaget karena sudah tersedia masakan yang enak-enak. Sinenek bertanya-tanya siapa yang memgirim masakan ini.
Begitu pula hari-hari berikutnya sinenek menjalani kejadian serupa, keesokan paginya nenek pura-pura kelaut ia mengintip apa yang terjadi, ternyata keong emas berubah menjadi gadis cantik langsung memasak, kemudian nenek menegurnya " siapa gerangan kamu putri yang cantik ? " Aku adalah putri kerajaan Daha yang disihir menjadi keong emas oleh saudaraku karena ia iri kepadaku " kata keong emas, kemudian candra kirana berubah kembali menjadi keong emas. Nenek itu tertegun melihatnya.
Sementara pangeran Inu Kertapati tak mau diam saja ketika tahu candra kirana menghilang. Iapun mencarinya dengan cara menyamar menjadi rakyat biasa. Nenek sihirpun akhirnya tahu dan mengubah dirinya menjadi gagak untuk mencelakakan Raden Inu Kertapati. Raden Inu Kertapati Kaget sekali melihat burung gagak yang bisa berbicara dan mengetahui tujuannya. Ia menganggap burung gagak itu sakti dan menurutinya padahal raden Inu diberikan arah yang salah. Diperjalanan Raden Inu bertemu dengan seorang kakek yang sedang kelaparan, diberinya kakek itu makan. Ternyata kakek adalah orang sakti yang baik Ia menolong Raden Inu dari burung gagak itu.
Kakek itu memukul burung gagak dengan tongkatnya, dan burung itu menjadi asap. Akhirnya Raden Inu diberitahu dimana Candra Kirana berada, disuruhnya raden itu pergi kedesa dadapan. Setelah berjalan berhari-hari sampailah ia kedesa Dadapan Ia menghampiri sebuah gubuk yang dilihatnya untuk meminta seteguk air karena perbekalannya sudah habis. Tapi ternyata ia sangat terkejut, karena dari balik jendela ia melihatnya tunangannya sedang memasak. Akhirnya sihirnya pun hilang karena perjumpaan dengan Raden Inu. Tetapi pada saat itu muncul nenek pemilik gubuk itu dan putri Candra Kirana memperkenalkan Raden Inu pada nenek. Akhirnya Raden Inu memboyong tunangannya keistana, dan Candra Kirana menceritakan perbuatan Galuh Ajeng pada Baginda Kertamarta.
Baginda minta maaf kepada Candra Kirana dan sebaliknya. Galuh Ajeng mendapat hukuman yang setimpal. Karena takut Galuh Ajeng melarikan diri kehutan, kemudian ia terperosok dan jatuh kedalam jurang. Akhirnya pernikahan Candra kirana dan Raden Inu Kertapatipun berlangsung. Mereka memboyong nenek dadapan yang baik hati itu keistana dan mereka hidup bahagia.

 

Timun Emas

Posted In: . By Admin

Mbok Sirni namanya, ia seorang janda yang menginginkan seorang anak agar dapat membantunya bekerja. Suatu hari ia didatangi oleh raksasa yang ingin memberi seorang anak dengan syarat apabila anak itu berusia enam tahun harus diserahkan keraksasa itu untuk disantap. Mbok Sirnipun setuju. Raksasa memberinya biji mentimun agar ditanam dan dirawat setelah dua minggu diantara buah ketimun yang ditanamnya ada satu yang paling besar dan berkilau seperti emas.
Kemudian Mbok Sirni membelah buah itu dengan hati-hati. Ternyata isinya seorang bayi cantik yang diberi nama timun emas. Semakin hari timun emas tumbuh menjadi gadis jelita. Suatu hari datanglah raksasa untuk menagih janji Mbok sirni amat takut kehilangan timun emas, dia mengulur janji agar raksasa datang 2 tahun lagi, karena semakin dewasa,semakin enak untuk disantap, raksasa pun setuju. Mbok Sirnipun semakin sayang pada timun emas, setiap kali ia teringat akan janinya hatinyapun menjadi cemas dan sedih.
Suatu malam mbok sirni bermimpi, agar anaknya selamat ia harus menemui petapa di Gunung Gundul. Paginya ia langsung pergi. Di Gunung Gundul ia bertemu seorang petapa yang memberinya 4 buah bungkusan kecil, yaitu biji mentimun, jarum, garam,dan terasi sebagai penangkal. Sesampainya dirumah diberikannya 4 bungkusan tadi kepada timun emas, dan disuruhnya timun emas berdoa.
Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. Timun emaspun disuruh keluar lewat pintu belakang untuk Mbok sirni. Raksasapun mengejarnya. Timun emaspun teringat akan bungkusannya, maka ditebarnya biji mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun memakannya tapi buah timun itu malah menambah tenaga raksasa. Lalu timun emas menaburkan jarum, dalam sekejap tumbuhlan pohon-pohon banbu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah raksasa terus mengejar. Timun emaspun membuka bingkisan garam dan ditaburkannya.
Seketika hutanpun menjadi lautan luas. Dengan kesakitannya raksasa dapat melewati. Yang terakhit Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, akhirnya raksasapun mati. " Terimakasih Tuhan, Engkau telah melindungi hambamu ini " Timun Emas mengucap syukur. Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sirni hidup bahagia dan damai.

 

Aji Saka

Posted In: . By Admin

Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang diperintah oleh raja bernama Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda. Sebagian kecil dari rakyat yang resah dan ketakutan mengungsi secara diam-diam ke daerah lain.

Di dusun Medang Kawit ada seorang pemuda bernama Aji Saka yang sakti, rajin dan baik hati. Suatu hari, Aji Saka berhasil menolong seorang bapak tua yang sedang dipukuli oleh dua orang penyamun. Bapak tua yang akhirnya diangkat ayah oleh Aji Saka itu ternyata pengungsi dari Medang Kamulan. Mendengar cerita tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan. Dengan mengenakan serban di kepala Aji Saka berangkat ke Medang Kamulan.

Perjalanan menuju Medang Kamulan tidaklah mulus, Aji Saka sempat bertempur selama tujuh hari tujuh malam dengan setan penunggu hutan, karena Aji Saka menolak dijadikan budak oleh setan penunggu selama sepuluh tahun sebelum diperbolehkan melewati hutan itu.
Tapi berkat kesaktiannya, Aji Saka berhasil mengelak dari semburan api si setan. Sesaat setelah Aji Saka berdoa, seberkas sinar kuning menyorot dari langit menghantam setan penghuni hutan sekaligus melenyapkannya.

Aji Saka tiba di Medang Kamulan yang sepi. Di istana, Prabu Dewata Cengkar sedang murka karena Patih Jugul Muda tidak membawa korban untuk sang Prabu.

Dengan berani, Aji Saka menghadap Prabu Dewata Cengkar dan menyerahkan diri untuk disantap oleh sang Prabu dengan imbalan tanah seluas serban yang digunakannya.

Saat mereka sedang mengukur tanah sesuai permintaan Aji Saka, serban terus memanjang sehingga luasnya melebihi luas kerajaan Prabu Dewata Cengkar. Prabu marah setelah mengetahui niat Aji Saka sesungguhnya adalah untuk mengakhiri kelalimannya.

Ketika Prabu Dewata Cengkar sedang marah, serban Aji Saka melilit kuat di tubuh sang Prabu. Tubuh Prabu Dewata Cengkar dilempar Aji Saka dan jatuh ke laut selatan kemudian hilang ditelan ombak.

Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan. Ia memboyong ayahnya ke istana. Berkat pemerintahan yang adil dan bijaksana, Aji Saka menghantarkan Kerajaan Medang Kamulan ke jaman keemasan, jaman dimana rakyat hidup tenang, damai, makmur dan sejahtera.

 

Usia 1 bulan:

  • Dapat mengangkat kepala sebentar ketika tengah tengkurap.
  • Refleks menggenggamnya makin berkembang kuat.
  • Bisa melihat pola hitam-putih dari jarak 8 inci dari wajahnya.
  • Menggunakan ekspresi wajah untuk menarik perhatian kita.
Usia 2 bulan:
  • Dapat mengangkat kepala setinggi 45 derajat selama beberapa menit.
  • Kepala tetap tegak takkala dipegang dalam posisi berdiri.
  • Menenangkan diri dengan cara mengisap jari atau dot.
  • Mata mengikuti objek yang bergerak.
Usia 3 bulan:
  • Dapat mengangkat kepala setinggi 90 derajat ketika tengkurap.
  • Kepala tegak dalam posisi didudukkan.
  • Melihat berbagai warna dengan jelas.
  • Menggunakan tangan yang mengepal ketika memukul mainan atau suatu objek.
  • Muncul senyum sosial pertama.
Usia 4 bulan:
  • Memasukkan setiap objek ke mulut (sebagai tanda eksplorasi).
  • Mengeksprolasi tangan dan kakinya sendiri.
  • Dapat mengenali orang dan objek.
  • Mulai mengkonsumsi makanan semi padat.
  • Berguling dari arah depan ke belakang atau sebaliknya.
  • Mengangkat dada ketika tengkurap dengan di-support kedua tangannya.
Usia 5 bulan:
  • Berceloteh dan tertawa keras.
  • Kepala tegak dalam posisi diberdirikan.
Usia 6 bulan:
  • Menggerak-gerakkan mainan yang berbunyi.
  • Dapat memindahkan suatu objek dari tangan satu ke tangan lain.
  • Dapat duduk sendiri.
  • Dapat memegang botol sendiri.
  • Bisa berkata "ba", "ga" , "ma" atau kombinasi konsonan dan vokal lainnya.
  • Menunjukkan kelekatan dengan cara menangis ketika orang yang dekat dengannya pergi.
  • Meraih objek yang menarik perhatiannya.
Usia 7 bulan:
  • Berdiri dengan bantuan.
  • Menggunakan cara berguling untuk bergerak.
  • Dapat memegang kuping cangkir dengan bantuan.
  • Menunjukkan rasa cemas melihat orang baru.
Usia 8 bulan:
  • Dapat makan craker atau makanan yang kecil.
  • Melihat ketika ada barang jatuh.
  • Merangkak dalam jarak dekat.
  • Berusaha berdiri.
  • Menggunakan tangan yang tergenggam untuk memungut barang.
  • Bermain ciluk ba.
  • Menggunakan telunjuk untuk menunjuk sesuatu.
Usia 9 bulan:
  • Berkata "mama" atau "dada"
  • Mengambil makanan dengan jari.
  • Dapat melangkah sebentar dengan bantuan.
  • Merangkak ke tangga.
  • Merespon beberapa perkataan terutama bila dipanggil namanya.
Usia 10 bulan:
  • Berdiri dengan bantuan.
  • Dapat duduk dari posisi berdiri.
  • Dapat ditarik dari posisi tidur ke posisi duduk.
  • Mencari objek yang disembuyikan.
  • Mengulang suara atau gerakan untuk menarik perhatian.
  • Dapat melambaikan tangan.
Usia 11 bulan:
  • Berceloteh panjang.
  • Mengangkat tangan atau kaki ketika dipakaikan baju.
  • Memegang cangkir atau gelas sendiri.
  • Merambat (berjalan dengan memegang meja atau benda lainnya).
  • Berjalan beberapa langkah tanpa berpegangan sesuatu.
Usia 12 bulan:
  • Berdiri tanpa bantuan.
  • Berjalan tanpa/dengan bantuan.
  • Memberikan ciuman ketika diminta.
  • Mengambil dan memberikan mainan.
  • Menggerakkan benda ketika mencari mainan/objek.

 

Empati Dalam Bentuk Primitif

Posted In: . By Admin

Anak-anak dikenal sebagai individu yang mau menang sendiri, egois, dan berpusat pada diri sendiri (self-centered). Tidak heran jika selama ini orang menyangka mereka tidak akan mampu menjalin pertemanan atas dasar hubungan memberi dan menerima, sebelum usia mereka mencapai 6-7 tahun. Ternyata sangkaan ini keliru.

“Penelitian terakhir menunjukkan, beberapa anak mampu berempati dengan orang lain ketika usia mereka baru 2,5 sampai 3 tahun”, kata Sandra V Sandy PhD, penasihat kurikulum untuk program TV Sesame Street sekaligus Direktur Ekslusif Paeceful Kids ECSEL (Early Childhood Social Emotional Learning) program pada Columbia University di New York.

Menurut Sandra, seorang bayi berusia 2 minggu yang menangis karena mendengar bayi lain menangis, atau seorang anak usia 1 tahun yang menyodorkan mainan kepada orang lain karena mengira kita sedang sedih, sebenarnya tengah memperhatikan empati dalam bentuk yang primitive. Dan, bentuk-bentk primitive empati adalah batu pembangun persahabatan.

Lilian Katz PhD, Direktur ERIC Clearing house on Elementary and Childhood Education pada University of Ikkinois di Urbana-Champaign, mengatakan, para bayi mulai mempelajari kecakapan sosial secara sederhana ketika ia diasuh dan distimulasi oleh pengasuh yang peka dan bertannggungjawab. Sementara di masa batita dan tahun-tahun prasekolah, anak mulai mengembangkan pola-pola perilaku dan sikap mengenai sosialisasi dengan mengamati bagaimana orang-orang di sekeliling mereka bertindak dan bereaksi dalam situasi social.

Hanya, anak-anak batita belum memiliki kematangan dalam beberapa kemampuan dasar yang diperlukan dalam sebuah pertemanan yang erat. Misalnya, kemampuan menanggapi anak lain dengan baik, dan kemampuan untuk mengatur giliran lebih baik dengan teman-temannya.

Untuk mengasah keterampilan anak batita berteman, bantuan orangtua sangat penting. Ann E LaForge menyarankan , para ibu bergabung dengan kelompok-kelompok kegiatan yang melibatkan ibu dan batitanya. Dengan begitu, anak-anak bisa sering bertemu dalam situasi yang akrab dan terawasi dengan baik. Tentu saja mempertemukan batita dengan anak-anak lainnya belum cukup. Orangtua juga dapat membantu memfasilitasi pertemuan anak-anak batita agar suasana lebih kondusif untuk bermain.

 

Lembaga pendidikan yang baik dapat menteimbangkan antara mengasah kecerdasan akademis, sekaligus membentuk kepribadian siswa dengan baik. Apalagi menghadapi era globalisasi saat ini yang membawa berbagi aspek positif dan negative bagi anak.

Global Islamic School (GIS) merupakan lembaga pendidikan yang sangat memahami fenomena tersebut. Pendirian sekolah yang dilakukan pada 2002, dilandasi visi menjadikan sekolah sebagai wadah pembelajaran yang berwawasan global berlandaskan iman dan takwa (imtak).

Menurut Dra H Syaichul Basyar Marsid Direktur GIS, sekolah yang dipimpinnya merupakan sekolah nasional yang berwawasan internasional. “Artinya, kami tetap berada di bawah bimbingan Departemen Pendidikan Nasional. Akan tetapi memiliki tambahan kurikulum yang bernuansa internasional, seperti pengembangan bahasa Inggris. Serta, pengembangan segi budaya keagamaan Islam yang berpegang teguh pada Alquran dan Sunah Rasul”, paparnya.

Sejak awal pendirian, GIS telah membuka beberapa tingkatan sekolah, mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA secara bersamaan. Syaichul menegaskan, hal ini sesuai dengan pandangan dari pendiri GIS B Winarso.

Resti Margiasih Panitie, Kepala Sekolah TK GIS, menambahkan bahwa untuk mempersiapkan siswa agar memiliki wawasan global berlandaskan imtak. Sebagai kerangka, maka sejak tingkat playgroup dan TK, anak-anak telah dibekali pengetahuan agama sesuai kemapuan. “Sejak tingkat playgroup hingga kindergarten 2, siswa diajarkan doa-doa harian. Kegiatannya biasa dimulai pada pagi hari. Mereka mengadakan doa bersama membaca hafalan doa sekaligus aplikasi dari doa tersebut. Misalnya, doa mau belajar biasanya dimulai Al Fathihah”, jelas Resti. Sesuai dengan tingkat usia dan kemampuan anak, maka hafalan doa tersebut ditambah. Selain itu, anak-anak juga dijelaskan mengenai manfaat dari membaca doa tersebut. Dengan demikian, ketika anak-anak melafalkan suatu doa, maka mereka juga memahami manfaatnya.

Global di sini juga kan berarti mengajak anak-anak memahami keanekaragaman yang ada, tetapi tetap berprinsip pada Islam. Jadi, nilai-nilai Islam itu terintegrasi dalam setiap kegiatan mereka. Khusus untuk pendidikan usia dini pada tingkat playgroup dan TK, Resti memaparkan bahwa pendidikan GIS mengacu pada teori perkembangan anak. Para pendidik GIS memahami bahwa anak-anak tidak bisa belajar dengan paksaan sehingga semua kegiatan belajar dilandasi dengan prinsip bermain.

“Ketika bermain, kami harapkan anak-anak bisa menikmati. Setelah itu, kami masukkan materi-materi pembelajaran yang sesuai dengan pemikiran mereka. Materi yang ada diklasifikasi dengan tematik, misalnya dimulai dengan tema ‘Aku Dan Sekolahku’. Itu berarti mereka mengenal dirinya, guru, dan sekolah. Jadi, semuanya berjaring saling berkesinambungan dengan pengetahuan mereka”, tuturnya.

 

Vera Itabiliana Psikolog anak mengatakan, bila orangtua ingin mencegah anaknya mengalami fobia sekolah, sebelum memasukkan anak ke sekolah harus dilihat dulu apakah anaknya sudah siap. Kesiapan yang dimaksud di sini meliputi siap secara mental, emosional, dan sosial. Banyak kasus anak yang mengalami fobia sekolah terjadi disebabkan belum siap memasuki lingkungan sekolah. Dengan demikian, si anak mengalami kesulitan menyesuaikan dengan lingkungan baru tersebut.

Kondisinya akan berbeda bila seorang anak sudah siap sekolah. Anak yang sudah siap sekolah mampu menunjukkan kemandirian lewat aktivitas rutin keseharian, misalnya makan, minum, mandi, dan berpakaian sendiri. Kalau pun ada bantuan dari orangtuanya atas aktivitasnya ini, itu hanya bersifat minimal.

Di samping itu, anak yang siap bersekolah cenderung mudah ceradaptasi dan bersosialisasi. “kalau pun sedang berkumpul dengan kawan-kawan sebayanya, tidak lagi ditemani ibu atau ayahnya”, kata Vera.

Anak juga sudah mulai menunjukkan minat belajar lebih luas dan mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi. Dia pun mulai tertarik dengan buku-buku bacaan dan menunjukkan minat bermain angka-angka.

Vera menyarankan, sebaiknya sebelum orangtua memutuskan memasukkan anak ke sebuah sekolah, terlebih dulu anak diajak belajar bersosialisasi dengan lingkungan terdekat, misalnya bermain dengan kawan-kawan tetangganya dan diperkenalkan dengan sanak saudaranya yang sebaya.

Anak juga mulai diperkenalkan untuk beradaptasi dengan aturan-aturan. Bisa dimulai dari atura-aturan sederhana di rumah, misalnya jadwal waktu mandi dan menonton telavisi. Kemudian, ketika anak sudah mulai menunjukkan minat bersekolah, orangtua perlu melibatkan anak dalam memilih sekolah. Orangtua bisa menyurvei 5 sekolah yang kemudian diseleksi hingga 2 sekolah pilihan. “Nah, terhadap 2 sekolah tadi, anak diajak mengunjungi sekolah itu dan menanyakan pendapat dia lebih suka bersekolah dimana?” tutur Vera.

Setelah si anak memutuskan memilih salah satu sekolah, maka berikan pula kesempatan bagi si anak untuk bertemu dan mengenal calon gurunya. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kenyamanan bagi si anak. Dengan begitu, ketika dia pertama kali masuk sekolah nanti tidak merasa asingh dengan wajah guru tersebut.

 

Agar Si Pemalu Berani Bicara

Posted In: . By Admin

Buat anak pemalu, jangankan untuk berbicara, diminta menyapa orang lain saja, belum tentu ia mau melakukannya. Nah, agar si pemalu berani omong di lingkungan sosialnya, kita perlu mendukungnya untuk lebih percaya diri. Misalnya dengan mengatakan, "Kemarin Tante di sebelah rumah senang sekali waktu Kakak mengucapkan salam kepadanya. Ia benar-benar suka sama Kakak."

Namun buat anak yang terlalu ramah terhadap orang-orang di sekitarnya, ia perlu masukan dari kita tentang bagaimana mengendalikan keramahan yang berlebihan. Misal, "Boleh-boleh saja, kok, Kakak mengucapkan 'Halo', asalkan kepada teman-teman sebayamu. Namun jangan digunakan pada saat kita bertemu dengan orang yang lebih tua karena tak sopan."

 

Periode Keemasan Belajar Anak

Posted In: . By Admin

Periode keemasan perkembangan bahasa adalah usia balita, yaitu sejak usia pertama sampai usia enam tahun. Pembelajaran bahasa pada balita diketahui berlangsung efektif melalui kegiatan bermain dan mendengarkan secara intens. Artinya, tanpa perlu stimulasi berlebih, balita dapat belajar bahasa ibu secara alami dengan baik.

Memang dibandingkan dengan orang dewasa kemampuan anak menguasai bahasa asing jauh lebih baik dan lebih cepat. Ini karena daya pikir anak lebih lentur sehingga ia lebih mudah menyerap kosakata dan tata bahasa asing serta dapat mempraktikkannya secara natural. Sebaliknya, jika terlambat mengenal bahasa asing pada anak, misalnya saat ia sudah menginjak usia remaja, maka kemampuannya menyerap pengetahuan bahasa asing sudah berkurang dan hasinya pun tidak maksimal.

Profesor English Linguistics dari University of Vaasa di Finlandia Deborah DK Ruuskanen mengunngkapkan, anak memungkinkan diajarkan dua atau tiga bahasa sekaligus. Ia mencontohkan, anak-anak di Eropa banyak yang belajar empat bahasa sekaligus tanpa kesulitan.

Ia mengatakan bahwa persyaratan utama adalah orangtua berbicara sesuai debgab bahasa ibu kepada anak. Kemudian, anak memiliki alas an mempelajari beragam bahasa dan ada dorongan untuk anak mempelajari bahasa-bahasa tersebut seperti lingkungan di luar rumah.

Jika bahasa yang digunakan di lingkungan rumah merupakan bahasa ketiga, maka anak akan dengan mudah mempelajari bahasa tersebut ketika ia mulai bermain dengan anak-anak lain di lingkungan tersebut. Ruuskanen dikutip dalam www.linguistlist.org.

Halu yang melatari kemampuan anak yang dapat menyerap bahasa, Ruuskanen melanjutkan, karena semacam ada “jendela” belajar bahasa yang terbuka kira-kira saat anak berusia 10 bulan. Di usia ini, menurut dia, terlihat jelas bayi-bayi mulai menirukan bunyi-bunyian yang mereka dengar.

Ketika ada reaksi dari pengasuh mereka, orangtua, atau siapa saja, bayi pun mulai mengasosiasikan arti dengan bunyi. Selama dua tahun ke depan, bayi akan belajar bahasa dengan kecepatan menakjubkan.

Dengan bermodalkan potensi yang sangat bagus seperti ini, yang tidak dimiliki lagi oleh orang dewasa, maka belajar dua bahasa tampaknya bukan perkara susah untuk anak balita.

Prof Ruuskanen yang kebetulan ibu dari tiga orang anak bilingual, ini menyebutkan bahwa optimal untuk belajar bahasa kedua sebenarnya sama dengan waktu belajar bahasa pertama, yaitu di rumah. Sejak anak lahir sampai usia tiga tahun dengan catatan kedua orangtuanya berbicara dalam dua bahasa tersebut sebagai bahasa ibu mereka (mother tongue).

 

First Friend Of Children

Posted In: . By Admin

Didahulukan Kemampuan dalam Bermain

Kemampuan bersosialisasi adalah salah satu kemampuan kompleks yang harus dipelajari anak. Bahkan bagi batita (bayi dibawah tiga tahun), teman memiliki pengaruh penting dalam perkembangannya. Pertemanan dapat membantu anak membangun rasa percaya diri dan empati.

Para ahli menyebutkan bahwa kemampuan anak untuk berteman dimulai sejak anak lahir. Orangtua dapat membantu anak dalam mengembangkan kemampuan ini, mengingat perannya sebagai teman pertama bagi anak. Lalu apa yang menjadi modal yang diperlukan anak batita untuk menjalin hubungan dengan teman-teman pertama mereka?

Dr Alice Charach, psikiater anak pada Hospital of Sick Children, Toronto dan penulis Your Child at Play series menyebutkan bahwa pada usia 1-2 tahun, anak-anak mulai memperluas dunia mereka, yaitu ketika mulai timbul ketertarikan pada anak lain. Anak ingin bersama anak-anak lain, bermain bersama, dan menonton mereka. Inilah modal awal anak untuk menjalin pertemanan. Naluri anak untuk berteman sudah ada sejak ia lahir. Mengingat inti pertemanan ialah membangun hubungan. Tentu saja, hubungan anak pertama ialah dengan orangtuanya. Setelah anak berhasil membangun hubungan yang kuat dengan orangtua, mereka mulai memperluas hubungan dengan orang lain.

Untuk mulai menjalin pertemanan, biasanya didahului dengan kemampuan anak bermain. Tipe bermain pertama yang umum dimiliki anak ialah bermain sendiri (solitary play).

Bermain sendiri ini bisa berarti benar-benar bermain sendirian atau memperhatikan orang lain bermain. Orangtua sering kali merasa khawatir jika anak melakukan hal ini, mereka berfikir anak mereka tidak benar-benar bermain. Padahal hal ini normal untuk anak, yaitu bermain sendiri atau sekedar memperhatikan orang lain

Marlyn Segal PhD, pakar perkembangan anak usia dini, pendiri sekaligus Direktur Family Center di Nova Southeastern University in Fort Lauderdale, Florida, Amerika Serikat, mengatakan sejak usia 8 bulan anak dapat terikat dengan anak lain. Contohnya anak-anak batita di kelompokkan bermain atau di kelas-kelas kegiatan orangtua dan anak. Di sana kita akan menemukan dua anak yang secara alami memiliki kecondongan terhadap satu sama lain.

Ann E LaForge, penulis buku What Really Happens in School, menyebutkan bahwa usia 1-2 tahun anak-anak memang ingin tahu (curious) terhadap anak-anak lain. Selain itu, mereka juga mulai tertarik bergiliran, berbagi, dan melakukan tindakan kooperatif yang lainnya.

Hal ini dapat dilihat dari sikap keseharian anak. Proses anak berteman dapat kita lihat melalui tahap bermain yang tengah mereka jalani. Pada usia 2-3 tahun, kegiatan bermain anak pindah dari bermain pararel, yaitu bermain berdampingan dengan anak lain. Namun, kegiatannya berbeda dengan bermain kooperatif, yaitu mengamati anak lain lalu terlibat.

 

Meski sudah memiliki ketertarikan dan empati pada anak lain, anak batita mudah sekali terlibat pertengkaran kecil dan adu teriak dengan temannya. Dengn mudah dapat disimpulkan bahwa mereka belum terampil bekerja sama dan berbagi.

Oleh sebab itu, anak-anak memerlukan banyak sekali bantuan untuk belajar bagaimana bergiliran, berbagi, membuat kesepakatan, dan bekerja sama. Berikut ini bantuan yang dapat diberikan kepada si kecil untuk menjalin hubungan dengan teman-teman pertamanya:
  • Sering-seringlah mengajak si kecil berjalan-jalan mengelilingi lingkungan tempat tinggal. Bertegur sapa dengan orang-orang yang dikenal. Tunjukkan ketertarikan kita sebagai orangtua pada anak-anak sebaya dengan si kecil dengan cara menyapa, mengelus kepala atau pipi, menggenggam tangan, memuji kepandaian, atau menanggapi ocehan mereka.
  • Sering-sering mengunjungi taman bermain atau kelompok bermain setempat bersama si kecil. Jika si kecil suka, tidak ada salahnya memasukkan anak ke institusi prasekolah. Tetaplah terlibat dalam kelompok bermain di mana si kecil berada.
  • Tetapkan batasan-batasan perilaku nonkooperatif yang tidak boleh dilakukan, misalnya, memukul, menggigit, menendang, menjambak dan meludahi.
  • Temukan sebanyak-banyaknya dan pujilah perilaku kooperatif yang diperlihatkan si kecil, misalnya berbagi atau mau menunggu giliran.
  • Ajaklah si kecil sesekali mengunjungi anak sebayanya (tetangga, teman, sekolah atau saudara sepupunya). Sebelumnya, siapkan anak agar berada dalam kondisi yang nyaman untuk bermain bersama teman kecilnya, yaitu tidak dalam keadaan lapar, mengantuk atau lelah.

 

Children Tooth

Posted In: . By Admin

Merapikan gigi anak-anak dengan kawat gigi atau behel mungkin akan memperindah senyuman. Namun, tidak menjamin kebahagiaan dan peningkatan rasa harga diri mereka.

Sebuah studi yang dilakukan selama 20 tahun oleh seorang ilmuwan di Inggris berupaya mencari tahu pengaruh kawat gigi pada lebih dari 300 anak-anak di Negara bagian Wales. Hasilnya menunjukkan bahwa memiliki sedikit efek positif terhadap kesehatan psikologis mereka di kemudian hari.

Ketika ditanyai, setelah beranjak dewasa, memang tak satu pun dari mereka yang menyesali perbaikan terhadap gigi mereka. Bahkan, mereka mengaku kebih puas. Namun, secara psikologis tidak ada perbedaan saat dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah menggunakan kawat gigi.

“Dasar penelitian dari penelitian kami adalah jika terdapat ketidakrapian pada gigi (khususnya pada gigi yang tidak terlalu berantakan), tidak membahayakan kesehatan gigi dan tidak mengubah kebahagiaan hidup mereka di masa depan, jika mereka tidak menggunakan kawat gigi”, kata dokter gigi dari Universitas Manchester di Inggris Profesor William Shaw.

Setiap tahun tidak terhitung anak-anak dari seluruh dunia yang mendapatkan perawatan dokter gigi untuk merapikan gigi mereka yang berantakan.

Biayanya pun cukup beragam, di Inggris dan di beberapa Negara lain harganya sekitar USD 3.915 atau tergantungtingkat ketidakrapian dan kesulitan dalam memasangnya.

Shawn dan timnya mengasumsikan bahwa akan ada manfaat social dan psikologis pada anak-anak yang telah merapikan giginya sejak 1981, Namun, ketika 20 tahun kemudian mereka diberi pertanyaan standar psikologis untuk mengetahui perasaan mereka, peneliti tidak menemukan apa pun yang mengidentifikasikan bahwa mereka memperoleh sesuatu dari perawatan gigi tersebut.

 

Utamakan Bahasa Ibu

Posted In: . By Admin

Masih banyak orangtua yang sering menganggap anak kecil akan bingung jika dikenalkan dua bahasa sekaligus. Ada kekhawatiran, bukannya menguasai dua bahasa tersebut dengan baik. Malah anak bingung. Mereka berpikir, belajar satu bahasa saja sulit, apalagi lebih dari satu.

Untuk orangtua yang memiliki pandangan semacam ini, masih terdapat beberpa pendidikan prasekolah yang tidak menggunakan dua bahasa secara bersamaan atau system bilingual. Salah satu TK Keponpong yang berada di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Kepala Sekolah TK Kepompong Candi Rasidi mengungkapkan bahwa anak-anak usia dini masih berada dalam tahap perkembangan kemampuan bahasanya. Dengan demikian, bahasa asing yaitu bahasa Inggris yang diberikan kepada anak didik Taman Bermain Kepompong hanya terbatas diajarkan melalui lagu-lagu, tidak sebagai mata pelajaran.

“Ada beberapa anak yang kemampuan berbahsanya tinggi sehingga tidak masalah, tetapi ada beberapa anak yang kemampuan bahasanya standar saja. Itu yang akan bermasalah kalau mereka diajarkan bilingual. Tapi, itu juga masih berupa penelitian. Kalau saya secara pribadi, ajarkan anak bahasa utamanya dulu. Begitu sudah lengkap, baru kita ajarkan bahasa lainnya”, Ujar Candi Rasidi.

Selain itu, Taman Kreativitas Anak Indonesia (TKAI) yang berada di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, juga menggunakan bahasa Inggris secara terbatas. Misalnya, pada saat menyebutkan benda, warna, atau menyanyi lagu berbahasa Inggris. Sementara, bahasa pengantar kegiatan mengajar belajar utama yang dipergunakan adalah bahasa Indonesia.

“Kami memakai bahasa Indonesia karena ingin memperkuat bahasa ibu dan anak. Sebab, sekarang ini banyak sekali anak-anak yang terlambat bicara. Kami berpendapat, kalau kami memberikan dalam bahasa Inggris, tetapi tidak dipakai di dalam rumah dan lingkungannya, maka tidak efektif”, tutur Kepala Sekolah TKIA Andriani.

 

Perkembangan teknologi informasi semakin membuat penguasaan bahasa asing menjadi sangat penting. Orangtua pun berlomba-lomba menyekolahkan si kecil di play group atau TK yang mengajarkan bahasa asing atau mendaftarkannya pada kursus-kursus lembaga bahasa.

Lembaga prasekolah Apple Tree merupakan salah satu lembaga pendidikan yang kegiatan mengajarnya diaplikasikan dalam dua bahasa asing, yaitu bahasa Inggris dan Mandarin. Sementara, bahasa Indonesia hanya dipakai pada hari tertentu, yaitu Selasa dan Kamis.

Center Principal Apple Tree Arteri Pondok Indah Jenny mengatakan, hal utama yang melatari penggunaan kedua bahasa asing adalah pertimbangnan mempersiapkan anak-anak dalam persaingan di masa yang akan datang.

“Kami menganggap bahwa 10 hingga 20 tahun yang akan dating, salah satu kualifikasi anak-anak ikut dalam persaingan kerja ialah bahasa, yaitu Inggris dan Mandarin. Jadi anak-anak seharusnya belajar bahasa tersebut sedini mungkin”, ujar Jenny.

Ia yakin dengan konsistensi, maka para siswa Apple Tree berusia mulai 1-6 tahun tengah berada dalam fase menyerap materi pelajaran, termasuk bahasa Inggris dan Mandarin dengan mudah.

“Kami mengajarkan anak dengan belajar fleksibel atau melalui permainan. Selain itu, pelajaran membaca dan menyanyi dalam bahasa Mandarin dan Inggris juga kami lakukan dalam tema yang bergantian tiap bulan sehingga menarik”, papar wanita kelahiran Filipina ini.

Menurut Jenny, pengenalan bahasa Inggris dan Mandarin dilakukan sejak kelas awal, yaitu toddler untuk usia 1-2 tahun. Melalui lagu-lagu Mandarin yang dinyanyikan, maka diharapkan anak-anak dapat melatih mulut dan lidahnya.

Terkadang, dia melanjutkan, anak-anak berusia sangat muda perhatiannya sering kali teralih. Jenny yakin meskipun anak tidak mengikuti secara intensif menyanyikan lagu tersebut, ia dapat mempelajarinya dengan mendengar.

“Kami selalu menekankan bahwa bahasa bahasa Mandarin mudah. Dengarkan dan bergabung saja. Jangan sampai sisi psikologis anak yang berpikir bahwa bahasa Mandarin itu sulit akan berpengaruh. Tapi jika diperkenalkan hal ini mudah, maka anak akan berpikir benar-benar mudah”, tuturnya.

Bahkan, para pengajar di Apple Tree tidak segan-segan mengajak orangtua berpartisipasi dalam mempergunakan bahasa Inggris dan Mandarin. Jenny mengatakan, beberapa orangtua sangat antusias mempelajari kedua bahasa ini, terutama untuk menunjang kemampuan anak.

 

Fobia Sekolah Pada Anak

Posted In: . By Admin

Fobia sekolah pada anak merupakan bentuk kecemasan yang tinggi terhadap sekolah. Biasanya disertai berbagai keluhan yang tidak pernah muncul ataupun hilang ketika “masa keberangkatan” sudah lewat, hari minggu atau hari libur. Fobia sekolah dapat dialami anak sewaktu-waktu hingga usia 15 tahun.

Fobia kerap terjadi saat si anak mulai bersekolah di sekolah baru atau menghadapi lingkungan baru. Selain itu, ketika ia menghadapi suatu pengalaman yang tidak menyenangkan di sekolahnya.

Menurut Praktisi Pendidikan Dra Prihanti Handayani, anak yang mengalami fobia sekolah bisa kelihatan ketika dia sedang bersekolah. Misalnya, dengan gejala seperti perut mulas. Lalu, ia akan minta ijin pulang dengan alasan sakit. Keesokan harinya pun dia tidak mau bersekolah. Izin satu-dua hari, lama-kelamaan mogok sekolah.

“Fenomena fobia sekolah biasanya terjadi pada masa awal tahuun ajaran baru. Hal ini bisa disebabkan masalah kemampuan anak dalam menyesuaikan diri. Namun, bisa juga lantaran masalah psikologi yang dibawa anak dari rumah”, kata Kepala Level 4-6 SDI Al Izhar, Pondok Labu. Dia mengaku, di sekolahnya ada saja anak yang mengalami fobia sekolah. Ini terjadi karena adanya perubahan dan perbedaan antara peraturan di rumah dengan peraturan di sekolah. “Anak fobia sekolah biasanya tidak terbiasa dengan sistem. Untuk menanggulangi fobia sekolah perlu kerja sama dengan orangtua”, paparnya.

Bisa saja si anak punya masalah di rumah. Kemudian, tiba-tiba di tengah jalan dia mogok sekolah karena dia mengalami kehilangan motivasi untuk sekolah. Si anak tidak tahu mencetuskan kemarahannya dalan bentuk apa? Jadi, dilampiaskan dengan cara mogok sekolah.

Kalau di sekolah terjadi seperti itu, maka guru kelas akan mendekati si anak secara individu. Menanyakan apa masalahnya dan apa yang bisa bibantu. Kalu masalahnya itu berkaitan dengan adaptasi, biasanya lebih mudah ditangani. Dalam hitungan minggu atau satu bulan sudah bisa diselesaikan dan anak sudah kembali aktif normal bersekolah. Repotnya, kalau masalah itu dibawa anak dari rumah. Menanganinya jauh lebih sulit, biasanya anak berkelit dengan jawaban yang berganti-ganti. Dalam situasi semacam ini diperlukan penanganan ahli psikologi. Terlebih dahulu ditangani masalah yang dihadapi si anak

“Kebanyakan kasus di sekolah kami karena anak yang mempunyai masalah di rumah. Hanya satu-dua anak yang berkaitan dengan masalah penyesuaian diri di kelas. Ini biasanya lebih cepat dan mudah untuk ditangani”, ujar Yani.

Kondisi berbeda bila kasus, seperti orangtuanya bercerai. Dengan demikian, soal ketidaknyamanan di rumah dibawa si anak ke sekolah, yang membuat dia menjadi malas sekolah

 

Biasanya di sekolah lain ada hari khusus yang dinamakan English Day, maka di Global Islamic School justru ada Indonesia’s Day. Bahasa Indonesia memang hanya diberi jatah satu hari di sekolah ini, yaitu hari Jum’at saja. Sementara, sisanya selama empat hari anak-anak diwajibkan berbahasa Inggris.

“Tujuan kami adalah agar anak-anak bisa menggunakan bahasa Inggris dalam konteks sekolah”, kata Wahyu Razak, Wakil Direktur Global Islamic School (GIS) yang sekaligus bertugas membuat desain kurikulum bahasa Inggris (GIS).

Di sekolah ini, bahasa Inggris diajarkan sejak tingkat Taman Kanak-kanak hingga SMU. Perbedaannya terletak pada metode dan pendekatan umum yang digunakan. Untuk tingkat SD sampai SMU, bahasa Inggris sudah digunakan baik sebagai pengantar pelajaran maupun dalam text book, seperti matematika dan buku-buku science. Bahkan anak-anak yang masih duduk di bangku kelas I SD sudah pandai melakukan dialog bahasa Inggris dengan orangtuanya.

Sementara itu, pengajaran bahasa Inggris pada level TK disesuaikan dengan tingkat usia anak. Biasanya dimulai dari hal-hal kecil yang bersifat alamiah. Contohnya, setiap pagi anak-anak disapa dengan good morning oleh sang guru. Awalnya anak-anak mungkin acuh dan tidak mengerti, tapi lama kelamaan mereka jadi mengetahui bahwa kata-kata tersebut adalah sapaan khusus untuk pagi hari. Dengan begitu, jika pada suatu saat disapa lagi mereka akan menjawab dengan good morning juga.

“Itu namanya pendekatan alamiah. Dari situ anak mengalami pemakaian bahasa yang tepat, tujuan kami supaya anak-anak bisa menguasai bahasa Inggris secara alamiah, tanpa perlu berpikir atau menerjemahkan dulu. Anak-anak itu belajar dari input yang dia terima. Oleh karena itu, kamu mengajak mereka langsung bicara saja sehingga mereka langsung bisa menirukan”, tutur pria yamg mendapat julukan Mr Good Morning ini.

Lebih lanjut, Wahyu menegaskan bahwa pengajaran bahasa Inggris untuk anak-anak sebetulnya lebih mudah karena biasanya mereka tidak takut salah. Ini berbeda dengan orang dewasa yang enggan berlatih berbicara bahasa Inggris karena takut salah atau takut ditertawakan. Hal ini membedakan antara orang dewasa denga anak-anak karena tingkat kekhawatiran akan berbuat kesalahan. Pada anak-anak tingkat kekhawatiran ini berada pada tingkat zero level.

Selain pendekatan alamiah, pengajaran bahasa Inggris juga dilakukan melalui media software berbentuk maneka CD interaktif yang dibeli dari dalam maupun luar negeri. Sementara. Untuk pengantar materinya lebih banyak diserahkan kepada kreativitas masing-masing guru pengajar.

 

Tips Mengatasi Fobia Sekolah

Posted In: . By Admin

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oranngtua dalm menangani masalah fobia sekolah, antara lain:
  • Tetap menekankan pentingnya bersekolah kepada anak. Tetaplah bersikap hangat, penuh pengertian, tetapi tegas dan bijaksana sambil menenangkan anak bahwa semua akan lebih baik setibanya dia di sekolah.
  • Berusahalah tegas dan konsisten dalam bereaksi terhadap keluhan, rengekan, tantrum, ataupun rajukan anak yang tidak mau sekolah.
  • Konsultasikan masalah kesehatan anak pada dokter. Dokter dapat membantu orangtua memberikan diagnosa, apakah keluhan anak merupakan pertanda dari adanya strees terhadap sekolah atau karena penyakit lain yang perlu ditangani secara seksama.
  • Bekerja sama dengan guru kelas atau asisten lain di sekolah. Berdiskusi dengan guru untuk meneliti factor atau penyebab di sekolah (misalnya diejek teman, dipukul, dan sebagainya) adalah langkah yang bermanfaat dalam upaya memahami situasi yang biasa dihadapi anak setiap hari.
  • Lepaskan anak secara bertahap. Pada hari-hari pertama, orangtua berada di dalam kelas dan lama-kelamaan bergeser sedikit demi sedikit di luar kelas, tetapi masih dalam jangkauan penglihatan anak. Jika anak sudah merasa nyaman dengan lingkungn baru dan tampak happy dengn teman-temannya, maka sudah waktunya orangtua untuk meninggalkan si anak di kelas demi menumbuhkan rasa percaya diri dan kemandirian anak.
  • Luangkan waktu untuk berdiskusi atau berbicara dengan anak. Di sini orangtua pun dapat mengajarkan cara-cara atau strategi yang bisa anak gunakan dalam menghadapi situasi yang menakutkan.
  • Konsultasikan pada psikolog atau konselor jika masalah ini terjadi berlarut-larut Psikolog atau konselor akan membantu menemukan pokok persoalan yang mendasari ketakutan, kecemasan anak sekaligus menemukan elemen lain yang tidak terpikirkan oleh keluarga

 

Hindari Pemaksaan pada Anak

Posted In: . By Admin

Bermain identik dengan dunia anak. Namun di usia batita, anak-anak sudah memiliki pola bermain yang berbeda-beda. Tak jarang, mereka juga tampak asyik bermain sendirian atau soliter karena pola bermain ini memang masih mendominasi pada usia tersebut.

Psikolog Reni Hasan mengatakan bahwa pada saat si batita belum mau bermain dengan anak-anak sebayabnya, sebaiknya orangtua tidak memaksanya. Ia membenarkan bahwa anak usia batita masih memiliki sikap egosentris yang tinggi. Anak belum mau berbagi dan masih ingin diperhatikan sehingga bermain bersama dapat membuatnya merasa tidak nyaman. Ketika anak berada pada usia batita, ia sering kali merasa nyaman dengan dunianya sendiri. Namun, tidak tetutup kemungkinan anak usia batita ada yang sudah bisa bersosialisasi. Anak bisa bermain bersama dengan teman lainnya. Malah bisa jadi dia merasa kurang gembira bila tidak mempunyai teman bermain atau harus bermain sendirian.

Jadi, bermain sendiri atau bersama-sama tergantung pada masing-masing anak dan juga orangtua. Ada anak yang memang merasa lebih senang bermain sendiri dibandingkan bermain dengan teman sebayanya. Besar kemungkinan karena orangtua tidak mendorong si anak bersoaialisasi sejak dini. Hal ini tergantung dari nilai-nilai yang berlaku pada keluarga, terutama pola pengasuhan yang diterapkan kepada anak. Anak juga kan belajar dari contoh yang diberikan oleh orangtua.

Sebaliknya, ada juga anak yang malah lebih senang bermain bersama. Biasanya, ini terjadi karena orangtua cenderung mendorong anak bermain bersama anak lain sejak dini. Hal ini dilakukan oleh orangtua yang tinggal dalam keluarga besar. Dengan demikian, sulit dibilang bermain sendiri itu bagus atau tidak. Tergantung juga harapan dari orangtua. Misalnya, jika orangtua yang pendiam, maka ia tidak akan menuntut sang anak untuk bawel atau bermain dengan oranglain.

Salah satu hal yang perlu diingat orangtua bahwa bermain soliter adalah bagian perkembangan tahapan normal. Jadi, tidak perlu khawatir dengan kebiasaan anak bermain sendirian. Biarkan dan jangan paksa anak untuk bermain dengan anak-anak lain bila memang tidak dia inginkan.

Melalui bermain soliter ini, anak bisa belajar banyak hal. Selain belajar berbagai keterampilan motorik dan beragam keterampilan lainnya, ia juga bisa mengembangkan imajinasinya. Dengan demikian, kreativitas si kecil pun semakin berkembang.

Penelitian ahli perkembangan anak, Mildred Parten, membagi dua pola bermain anak, yaitu bermain social dan nonsosial. Disebut bermain social jika dua anak atau lebih bermain bersama dan saling terlibat. Pada anak batita, umumnya dijumpai pola bermain nonsosial atau tidak bermain bersama anak-anak lain.

 

Mengajarkan Kamanan Diri

Posted In: . By Admin

Di usia prasekolah, lingkungan sosial anak makin luas. Itu sebab, ia perlu diajarkan menjaga keamanan dirinya, seperti, "Jangan pernah berbicara dengan orang asing, sekalipun jika mereka minta pertolongan," atau "Jangan pernah menerima makanan maupun minuman apa pun dari seseorang yang belum kita kenal sama sekali."

Kita bisa mengajarinya lewat permainan peran agar ia lebih mudah menyerap informasi yang kita berikan. Misal, tanyakan padanya, "Andaikan suatu waktu ada seorang anak yang lebih besar dari Kakak memaksa untuk mencarikan kucing peliharaannya yang hilang, apa yang akan Kakak lakukan?"

Beri tahukan pula langkah apa yang akan kita ambil bila menghadapi hal tersebut, yaitu, "Segera menyingkir dan mencari orang dewasa yang kita kenal untuk meminta bantuan."